Well, merindukan tempat dan ruang kadang bikin sedih (?). Perpindahan tempat sepatutnya tak mengubah diskusi serius dan candaan konyol kami. Namun, segala tugas mendadak nyatanya membuat kami adaptasi dan terus bertumbuh dengan tempaan lingkungan. Bagaimanapun misi kami, semoga aturan tetap pada syariat dan kami enjoy menjalaninya (sori, menjadi enjoy memang terkadang harus dipaksa bukan?). Jalani hari-hari dengan semangat ya, waktu takkan terulang. beri yang terbaik yang kamu mampu usahakan. Semangat!
Tulisan ini sengaja dibuat untuk mencoba menarik garis merah tentang apa yang aku cari pada sebuah pernikahan. Di bulan Syawal, beberapa teman maju ke tahap itu (pernikahan). Ada rasa penasaran yang ada di benak dan otakku, apakah aku akan sampai di titik itu: menikah-menggandeng-menggendong-belajar sepanjang peran istri dan ibu sampai bertemu Rasulullah dg ridha ortu dan suami. Bukan, aku meyakini jodoh-rejeki dan umur sudah ditulis. Aku mengimani qadha' dan qadar yang selalu kusebut dalam doa, bahkan curhatan ke Allah dan Rasul saat menghabiskan penatnya lampu merah Surabaya. mungkin tepatnya aku penasaran di titik apa nanti aku meninggal dunia. Semoga keturunan shalih-shalihahku bisa meneruskan amalan dan memuliakan yang telah diajarkan gurunya, aamiin. Menganalisa diri untuk merasa siap maju ke pernikahan berkali terevalusi. Ada yang nambah list kriteria, juga menghapus yang tidak urgent. Rupanya memfokuskan diri untuk mendapatkan apa yang sebenarnya kucari, nggak ada h...
Komentar
Posting Komentar