Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label SelfTalk

Tentang Cinta dan Pengungkapan

  Dari kisah “Kepada Muinuddin Parwana” dalam buku Surat-Surat Rumi. Sebuah buku yang menghimpun surat yang ditulis oleh Rumi untuk banyak orang (para pejabat, amir, murid, sahabat, keluarga bahkan guru spiritualnya Syams Tabrizi). Rumi yang tak sungkan mengungkapkan cinta, nasihat, teguran bahkan meminta pertolongan kepada elite pemerintahan agar memperhatikan masyarakat kecil dan para darwis.  *** Ketika sedang duduk di dalam masjid, tiba-tiba ada seseorang yang berjalan dari arah pintu masjid. Salah seorang sahabat berkata kepada nabi, “Wahai Rasulullah, aku mencintai orang ini yang baru datang.” Rasulullah bersabda, “Berdirilah dan beritahu dia tentang rasa cinta itu.” Seandainya ada penyakit riya’ dalam mengungkapkan rasa cinta ini, niscaya (Rasulullah) manusia yang melihat hal-hal kecil di dalam semesta tidak akan mengeluarkan fatwa tentang perlunya memberitahu rasa cinta di hati. “Barang siapa mencintai seseorang maka ungkapkanlah” Begitulah, sang raja para amir ad...

Koridor L (part 3)

 Jumat adalah momen yang tepat untuk nostalgia, makan siomay! happy sekaligus sedih karena hari ini ada perpisahan (sejenak) atasan yang mau pelatihan ke salah satu universitas idaman (semasa SMA). Bakal kesepian 2 pekan gaada karakter yang blak-blak an, songong, tapi mau belajar. wkwk, bye Mbak! Bejo selalu di sana. Jumat dengan kharismanya, membuatku belajar tentang : 1. "If you got something wrong, it means that your brain is growing" kalimat yang dipertik setelah diskusi sama atasan. Gara-gara masih nemu kesalahan pekerjaan yang dilakukan (secara tidak sadar). Mungkin kenapa kinerja manusia tuh ga bisa banget dibikin automatic macem mesin yang ada tombol on/off -nya. manusia tuh ada indera perasa yang kadang kalah sama logika, jadilah faktor human error  pasti ada walau regresinya ngga 0,99. Jadi apa yang bisa diperbaiki? reading , pahami dan validasi data ulang untuk kroscek kesimpulanmu bener apa engga. 2. Gara-gara mbaca ulang 'Sabtu bersama Bapak" sesekali ...

mengenal diri sebelum mengenal pasangan

Liburan April kemarin ( literally sampai sekarang belum selese bacanyaa, argh) buku Mars and Venus on a Date, diceritakan bagaimana menemukan pasangan yang cocok. Buku karya pak John Gray, PhD menemaniku memahami diri dan belajar psikologi hubungan lawan jenis. Thank you, sir ! Walaupun beberapa hal tetap ada yang disaring, tapi ini cukup worthed buat yang sudah ada prinsip untuk mengelola hubungan dengan baik. Bagaimana bereaksi terhadap harapan untuk memperoleh apa yang kita butuhkan dan menguji diri, serta bagaimana terlibat dalam suatu hubungan panjang.  Di dalamnya belio cerita bagaimana tahapan berpacaran, pola-pola hubungan (yang bahkan cinta dan fisik saja tidak cukup, perlu komitmen, bukti untuk menghidupkan sisi terbaik dalam diri, keterampilan komunikasi, mandiri, berkembang menjadi pribadi yang matang dan mandiri , pengendalian spiritual dan emosional). Jodoh pun tak pernah sempurna. Mereka tidak memiliki semua yang tercantum di daftar kualitas ideal yang sudah ditul...

Toleransi yang tulus

Akhir-akhir ini merasa krisis toleransi, toleransi yang tulus. Toleransi yang bukan sekadar untuk membahagiakan hati orang lain. Namun toleransi yang ada hanyalah agar si objek bicara kemudian diam karena tak terbalas. Lagi nggak nutut mikir kenapa orang seperti bermuka banyak, di belakang memakan daging, di depan orang mengendus perhatian.  Sungguh benar adanya: "Hanya di dunia tempat mendengar percakapan yang sia-sia juga dusta" Aku rindu lingkungan toleransi tinggi nan tulus :<

Belas Kasih

Di perjalanan menuju pasar tadi pagi, aku berfikir: Apakah belas kasih tumbuh linier seiring perannya dalam rumah tangga? Aku kini berperan sebagai anak yang mood swing nya butuh ganti batre berulang kali untuk dikondisikan. Aku membayangkan: Apakah nanti aku bisa memiliki value belas kasih sebesar ibu pada anaknya? sebesar bapak pada anaknya meski tak ditampakkan? Ibu pada anaknya yang peduli tanpa diminta. Ibu pada anaknya yang meskipun tidak suka makanan manis tetap masak masakan manis untuk hidangan tunggal. Ibu pada anaknya yang meskipun sudah 'menjadi orang' tetap saja menyiapkan bekal iftar. Bapak pada anakya yang berusaha mencukupi kebutuhan pangan-papan-sandang, Bapak pada anaknya yang telaten mengajari logika lapangan, Bapak pada anaknya dengan konsentrasi fisik 201%, Bapak dan Ibu pada anaknya yang berkorban waktu dan tenaga tanpa meminta balasan di masa depan. O, my lord. Bestow on them the mercy even as they cherised me in chilhood.   #EuforiaRamadan1442H

Menjadi Dermawan

Dermawan mampu menaikkan bounding pertemanan dan lebihnya seolah segala hal baim yang kita lakukan bisa kembali ke diri (dengan qadar-Nya). Aku teringat suatu hari saat tiba-tiba teman semasa kuliah menyapa lewat chat untuk menanyakan kebutuhannya. Pandemi memang merubah lebih dari satu-dua kebiasaan kita, salah satunya silaturahmi. Aku menjawab kebutuhannya disaat pelik menyusun jurnal. Oh, tunggu. Apakah ini juga salah satu cikal bakal prokastinasi menyerang sarafku? Apakah kalian pernah juga merasa bahwa membantu orang baru rasanya membuat lebih berenergi dari pada menyelesaikan pekerjaan sendiri? Lalu mendapat doa dan afirmasi positif  seolah batre di tubuh full 101%. Sama dong (hiks). Semoga prokastinasi ini bisa terobati dari waktu ke waktu.  Ada kekonyolanku saat diminta Icak untuk menemaninya berbelanja. Disaat yang bersamaan grafikku nggak berubah sesuai hipotesa. Tentu menyebalkan. dan lagi aku memenuhi ajakan teman untuk sedikit refresh diri dari kekesalan grafik. T...

Dari Ramadan ke Ramadan

Alhamdulillah, Ramadan is back . Rasanya patut sekali bersyukur untuk menikmati aktivitas di dalamnya. Rasa syukur terbesarku kini adalah melihat ibu-buya sehat dan kami bisa beraktivitas untuk mengejar berkah Ramadan bersama. Musim pandemi genap dua tahun membuat beberapa perubahan rutinitas. Dari yang menyiapkan segalanya sendiri (meminimalisir makanan instan dan tentu jajan di luar). Sampai mematuhi protokol kesehatan yang dibuat ibu untuk di rumah.  Aku sedang menikmati masa ini, mencoba banyak legowo untuk ulet mengambil hikmah. Hikmah bagaimana berkomunikasi untuk meminimalisir miss informasi, rajin mendengar sebelum berkomentar, dan tarik nafas panjang-panjang saat merasa capek untuk lanjut ke kegiatan selanjutnya. Aku mencoba enjoy dan santai. Sesantai nganggurin blog ini (baru check, ternyata tulisanku lebih banyak di draft dari pada publish , terlalu malu mengakui kebucinan dan kekonyolan di umur 26, haha). Oke, here am i . Menyisihkan waktu Ramadan untuk menulis di blog ...

Kebijakan, Sebuah Didikan menjadi Bijak

Kamu merasa nggak sih, ragam penyesuaian mulai terbentuk dengan adanya pandemi ini? Dari yang sebelumnya perfeksionis menjadi selow , sebelumnya menitipkan anak agar tidak mengganggu rapat menjadi membebaskan anak bereksplorasi, sebelumnya senewen dengan hasil paper   ambigu tidak berkalimat efektif menjadi saling menyemangati. Bahkan yang sebelumnya ngitungi jam buat jadi pemalas bisa bebas malas dan bermanfaat dengan rabahan di kamar (a.k.a isolasi ODP di Rumah) sampai bosan jadi pemalas. Eh gimana tu rasanya, haha. Begitulah tekanan membentuk pribadi seorang. Semoga setelah masa pandemi ini berakhir, orang-orang jadi saling memahami dan penerimaan takdir. Manusia jadi mahir mengontrol emosi sampai menjadi awet bijak. Ngobrolin bijak-kebijakan. Aku jadi teringat obrolan dengan teman tentang Kampus Merdeka. Sebuah kebijakan baru Menteri Pendidikan dan Budaya (MENDIKBUD) dalam upaya akselerasi perguruan tinggi menuntut ilmu lintas disiplin. Lalu apakah langkah ini bisa me...

Sandwich Generation

Seiring bertambahnya usia banyak sekali pertanyaan yang terngiang di kepala. Salah satunya adalah, Apakah aku bisa berada di level hidup yang nyaman, yang selama ini orang tua berikan ? Pikiran ini muncul setelah membaca artikel dan Tweet tentang   Sandwich Generation.   Tentang generasi milenial yang harus menghidupi orang tua atau anggota keluarga lainnya. Bagi yang sudah menikah, selain harus memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri, generasi ini harus menanggung pula beban finansial orang tua atau saudaranya. Sandwich Generation dihasilkan karena adanya kegagalan dari generasi sebelumnya dalam merencanakan keuangan.  Untuk memutus mata rantai Sandwich Generation, yang bersangkutan idealnya memiliki penghasilan yang memadai. Selain itu, diperlukan perencanaan keuangan yang hati-hati. Mbak Wina dalam kuliah online manajemen finansial menitik beratkan siapapun untuk belajar belanja dan tetap berperilaku wajar dalam fashion . Belajar belanja artinya, tidak kal...

Puasa Sosial Media

Hari ke tujuh ikut challenge BERSEMADI. Mulai bingung nulis apa. Saking banyaknya konten yang berkeliaran di feed dan story Instagram. Ternyata nulis itu butuh banget numbuhin semangat diri dan niat yang tatak untuk nuntasin. Selain niat dan agar tidak bingung, kata temenku (jago banget nulis jurnal, sudah 38 judul yang terpublikasi di usia 25, gila!). "Nulis itu bikin outline nya dulu baru cari isinya" ucapnya sewaktu kuminta nasihat review jurnal. Aku tidak menyalahkan orang-orang yang nulis by doing on outline dan isi bahasan, ini tentang efektifitas dan efisiensi waktu dalam bergerak (lagi sempit waktu gerak soalnya H-11 pengumpulan fufufu). Konon si temenku ini bisa bikin review jurnal cuman seminggu dan diterima penertbit jurnal Q2. WOW! Di hari ke 14 Ramadan ini, aku berniat untuk puasa sosial media agar jobdesk dan target bisa selesai 2 hari sebelum dateline .   Bosen selama nulis dan review jurnal pasti ada, scrolling story Instagram bisa jadi peny...

Sejauh 76 KM

Energi weekend ini cukup diserap oleh sebuah perjalanan panjang. mengukur jarak - mengukur seberapa dalam strategi digalakkan. Perjalanan yang mendadak digerakkan, maju melintang jalanan yang 'baru' dilewati seumur hidup, perjalanan Surabaya (Pagesangan) - Gresik (Lowayu).  Hahha sudah halus belum nih bikin intronya :p Yak, betul. Perjalanan Surabaya-Gresik mbolang kali ini adalah perdanaku. sendirian bolang demi ngamini doanya temen-temen pesantren yang tholabul ilmi-nya beneran ikhtiar! coba bayangkan dari makanan, baju, waktunya beneran cuman buat Al-Quran. Makanan ngga neko-neko cuman basic kangkung, tahu, tempe, terong yang divariasikan menunya. Baju yang dijatah perorang cuman 5 model baju ganti. Waktu bangun sampai tidur lagi isinya lalaran mushaf. Oke, balik ke cerita perjalanannya.  Akutu sedih akan adanya ketimpangan kabupaten dan kota, khususnya di masalah fasilitas transportasi. padahal kapan hari salah satu narasumber di seminar edukasi pertambangan bila...

rekom-merekom

Lain kali kalo merekomkan temen untuk diskusi atau tanya tentang apapun, coba rekomendasikan yang sejenis. Laki-laki untuk laki-laki, begitu sebaliknya. Karena kamu gaakan tau apa yang terjadi sama hubungannya, matanya, telinganya bahkan hatinya nanti. So, kalo kamu ga bisa jaga dia dari dekat-pilih orang yang beriman untuk berada didekatnya Maafin aku kalo pernah salah yha