Langsung ke konten utama

kali kedua Jatuh*

seperti biasa, sore itu saya pamit dari temen-temen panitia RDK34 untuk undur diri. rutinitas saya selama liburan semester genap ini ngriwuki kegiatan RDK (Ramadhan Di Kampus 1434H). perjalanan pulang, saya nda merasa ada yang aneh- sama sekali. tapi kepulangan kali ini saya akui, memang sedikit memaksa. mm terlalu keburu-terlalu pagi soalnya kala itu masih jam stengah 4 sore. kalo ditanya
'kenapa kok pulang cepet ?'
'soalnya ada buka bersama temen SMA '
jadi berasa nggak mau ninggalin kesempatan yang datang setaun sekali ini :p
apa boleh buat- karena uda kadung janji ketemu sama temen setelah sholat asar- jadilah saya asar-an dimanarul lalu meluncur ke tempat janjian >>depan JawaPos. belum sampe di jawapos temen saya sms "bad,langsung ke rumah bangFarid ajaya-urgent". yass pergilah saya kedaerah Jambangan *alamat yang tertera dijarkoman.
naik sepeda- puter-puter sok kenal daerah Jambangan. akhirnya tanya juga ke orang
"mbak-mas, jambangan gang X disebelah manaya "
--------------skip----------------------
SAYA NYASAR ! (._.)"
berhubung jarak tempat bukber dan rumah - nggak terlalul jauh.pulang lah saya dengan niatan ngambil mukenah.ehpas dirumah. si bungsu adik minta diantar ^bukber (juga).atas saran ibu- berangkatlah saya bersamanya untuk pergi bukber--
masih diperempatan .. tiba-tiba BRAK ! jatuh.ketumpuk sepeda.keseret.nangis
>>nggajadi BUKBER.sedih ? iya sedikit-.-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kali ini semarak PKM menyelimuti gedung ini. di sepanjang koridor berhamburan kelompok-kelompok kecil yang asyik membicarakan segala hal tentang ide cemerlang agar terangkai indah dalam notes. begitu juga kehadiran Mahasiswa Baru berwajah polos. Mereka bak ilalang yang dihempas angin topan, menari-nari kesana kemari. yah begitulah masa pengkaderan. Tetap tegakkan diri walau segala menghujam. semoga nantinya PIMNAS 13 juga kian terhiasi oleh karya cipta Mahasiswa Teknik Lingkungan ITS. TL IJO !

Tentang Cinta dan Pengungkapan

  Dari kisah “Kepada Muinuddin Parwana” dalam buku Surat-Surat Rumi. Sebuah buku yang menghimpun surat yang ditulis oleh Rumi untuk banyak orang (para pejabat, amir, murid, sahabat, keluarga bahkan guru spiritualnya Syams Tabrizi). Rumi yang tak sungkan mengungkapkan cinta, nasihat, teguran bahkan meminta pertolongan kepada elite pemerintahan agar memperhatikan masyarakat kecil dan para darwis.  *** Ketika sedang duduk di dalam masjid, tiba-tiba ada seseorang yang berjalan dari arah pintu masjid. Salah seorang sahabat berkata kepada nabi, “Wahai Rasulullah, aku mencintai orang ini yang baru datang.” Rasulullah bersabda, “Berdirilah dan beritahu dia tentang rasa cinta itu.” Seandainya ada penyakit riya’ dalam mengungkapkan rasa cinta ini, niscaya (Rasulullah) manusia yang melihat hal-hal kecil di dalam semesta tidak akan mengeluarkan fatwa tentang perlunya memberitahu rasa cinta di hati. “Barang siapa mencintai seseorang maka ungkapkanlah” Begitulah, sang raja para amir ad...

Yang dicari dalam pernikahan

  Tulisan ini sengaja dibuat untuk mencoba menarik garis merah tentang apa yang aku cari pada sebuah pernikahan. Di bulan Syawal, beberapa teman maju ke tahap itu (pernikahan). Ada rasa penasaran yang ada di benak dan otakku, apakah aku akan sampai di titik itu: menikah-menggandeng-menggendong-belajar sepanjang peran istri dan ibu sampai bertemu Rasulullah dg ridha ortu dan suami. Bukan, aku meyakini jodoh-rejeki dan umur sudah ditulis. Aku mengimani qadha' dan qadar yang selalu kusebut dalam doa, bahkan curhatan ke Allah dan Rasul saat menghabiskan penatnya lampu merah Surabaya. mungkin tepatnya aku penasaran di titik apa nanti aku meninggal dunia. Semoga keturunan shalih-shalihahku bisa meneruskan amalan dan memuliakan yang telah diajarkan gurunya, aamiin. Menganalisa diri untuk merasa siap maju ke pernikahan berkali terevalusi. Ada yang nambah list kriteria, juga menghapus yang tidak urgent.  Rupanya memfokuskan diri untuk mendapatkan apa yang sebenarnya kucari, nggak ada h...